Buku baru sudah menumpuk di meja, dan kamu bingung harus menaruhnya di rak yang mana. Sebuah buku tentang kamus biologi, misalnya: masuk ke bahasa, sains, atau referensi umum? Kalau salah menaruh, buku itu sulit ditemukan dan pemustaka ikut kebingungan.
Di sinilah klasifikasi dan tajuk subjek bekerja. Klasifikasi menentukan di mana buku berdiri di rak, sedangkan tajuk subjek menentukan lewat kata apa buku itu bisa ditelusur di katalog. Keduanya berawal dari satu langkah yang sama: memahami isi buku.
Artikel ini membahas cara membuat tajuk subjek dan klasifikasi DDC secara bertahap untuk pemula, lengkap dengan contoh nomor kelas dan tajuk, serta kesalahan yang sering terjadi.
Daftar Isi
Apa Bedanya Klasifikasi DDC dan Tajuk Subjek?
Klasifikasi adalah penyusunan buku dan bahan perpustakaan secara sistematis berdasarkan subjeknya, sehingga buku dengan subjek sama berkumpul dalam satu jajaran dan subjek yang berkaitan berdekatan letaknya. Hasil akhirnya berupa angka atau notasi kelas.
Tajuk subjek hasilnya berupa kata, istilah, atau frasa yang mewakili subjek buku. Tajuk dipakai di katalog agar pemustaka bisa mencari lewat subjek, bukan hanya lewat judul atau pengarang. Jadi satu buku biasanya punya satu nomor kelas dan satu atau beberapa tajuk subjek.
Mengenal DDC (Dewey Decimal Classification)
DDC adalah pedoman untuk mengelompokkan bahan perpustakaan menurut subjeknya. Sistem ini bersifat hierarkis, bergerak dari yang umum ke yang khusus, dan hanya memakai angka Arab.
Edisi lengkap yang umum dipakai adalah DDC 23, dan versi digitalnya dikenal sebagai e-DDC atau WebDewey. DDC sendiri terdiri dari tiga bagian, bagan, tabel pembantu, dan indeks relatif.
Sepuluh Kelas Utama DDC
Bagan DDC membagi seluruh ilmu pengetahuan menjadi sepuluh kelas utama:
- 000 Karya umum
- 100 Filsafat dan psikologi
- 200 Agama
- 300 Ilmu-ilmu sosial
- 400 Bahasa
- 500 Ilmu-ilmu murni
- 600 Teknologi
- 700 Kesenian
- 800 Kesusastraan
- 900 Geografi dan sejarah umum
Setiap kelas utama dibagi lagi menjadi sepuluh divisi, lalu sepuluh seksi, dan seterusnya. Contohnya, kelas 300 (ilmu sosial) memuat divisi 370 (pendidikan), dan di dalam 370 ada 372 untuk pendidikan dasar dan 378 untuk pendidikan tinggi. Semakin panjang angkanya, semakin spesifik subjeknya.
Tabel Pembantu dan Indeks Relatif
Tabel pembantu berisi notasi tambahan yang tidak bisa berdiri sendiri dan hanya dipakai bersama notasi dari bagan. DDC memiliki enam tabel utama: subdivisi standar (Tabel 1), wilayah (Tabel 2), subdivisi sastra (Tabel 3), subdivisi bahasa (Tabel 4), ras dan etnik (Tabel 5), serta bahasa-bahasa (Tabel 6).
Indeks relatif adalah daftar istilah yang disusun alfabetis beserta petunjuk nomor kelasnya. Disebut relatif karena satu istilah bisa muncul dengan nomor berbeda menurut disiplin ilmunya. Misalnya, “listrik” punya nomor berbeda saat dibahas dari sisi fisika dan sisi teknik.
Langkah 1: Lakukan Analisis Subjek
Sebelum membuka DDC, kamu perlu tahu buku itu membahas apa. Kamu tidak harus ahli di bidangnya, tetapi perlu memahami subjek sebagaimana diungkapkan dalam buku. Urutan sumber informasinya sebagai berikut:
- Baca judul buku.
- Baca kata pengantar.
- Baca daftar isi.
- Baca pendahuluan.
- Baca sinopsis di sampul belakang (blurb).
- Lihat daftar pustaka.
- Kalau masih belum jelas, baca sebagian atau seluruh isi buku.
- Gunakan sumber lain seperti katalog, kamus, ensiklopedia, atau resensi buku.
- Bila tetap ragu, tanyakan kepada ahli bidang tersebut atau penulisnya.
Berhentilah di langkah mana pun yang sudah cukup jelas. Untuk buku ilmiah, judul sering sudah menunjukkan subjeknya.
Langkah 2: Tentukan Nomor Klasifikasi DDC
Setelah subjek jelas, terjemahkan ke dalam bahasa DDC dengan urutan berikut.
- Rumuskan konsep subjek dalam bahasamu sendiri, misalnya “kamus biologi”.
- Cari istilahnya di Indeks Relatif. Kalau tidak ketemu, analisis lagi lebih dalam atau cari istilah yang lebih umum.
- Cocokkan ke bagan. Angka di indeks hanya petunjuk, jadi selalu cek nomor itu di bagan untuk memastikan yang paling tepat. Jangan berhenti di indeks.
- Telusuri dari kelas utama ke divisi, seksi, hingga subseksi sampai ketemu angka paling spesifik.
- Tambahkan tabel pembantu bila perlu, misalnya untuk bentuk penyajian, wilayah, atau bahasa.
- Catat hasilnya sebagai dasar nomor panggil buku.
Prinsip Klasifikasi
Beberapa prinsip membantu pemula mengambil keputusan saat ragu:
- Klasifikasikan menurut subjek lebih dulu, baru bentuknya. Kamus istilah biologi masuk ke biologi (574.03), bukan ke kelas kamus.
- Pilih subjek yang paling spesifik. Jangan memakai angka yang terlalu luas kalau ada yang lebih tepat.
- Perhatikan maksud penulis. Buku sejarah yang berjudul puitis tetap masuk sejarah, bukan sastra.
- Dua subjek berhubungan? Pilih yang paling ditekankan dalam uraian buku.
- Dua subjek seimbang tanpa yang diutamakan? Pilih yang disebut lebih dulu dalam bagan DDC.
- Subjek tidak punya nomor sendiri? Gunakan nomor yang paling dekat.
Contoh Klasifikasi Sederhana
Berikut beberapa contoh dari bahan ajar klasifikasi. Karena nomor bisa berbeda antaredisi, cocokkan dengan edisi DDC yang kamu pakai.
- Kamus biologi: biologi 574 + subdivisi standar kamus -03 = 574.03.
- Majalah ilmu kedokteran: ilmu kedokteran 610 + majalah -05 = 610.5.
- Geografi Indonesia: geografi wilayah 915 + notasi wilayah Indonesia = 915.98.
- Sejarah Jepang: sejarah 9 + notasi wilayah Jepang = 952.
Langkah 3: Tentukan Tajuk Subjek
Setelah nomor kelas, lanjutkan ke tajuk subjek. Prosesnya mirip: analisis subjek, lalu terjemahkan dari bahasa alami ke bahasa indeks. Bedanya, kamu mencari kata atau frasa baku dalam daftar tajuk.
Untuk perpustakaan di Indonesia, acuan yang umum dipakai adalah Daftar Tajuk Subjek untuk Perpustakaan yang diterbitkan Perpustakaan Nasional RI. Beberapa pedoman lain adalah Daftar Tajuk Subjek Islam (untuk perpustakaan keagamaan) dan MeSH (untuk bidang kesehatan).
Daftar tajuk Perpusnas juga mencantumkan nomor klasifikasi di samping tajuk, sehingga membantu pemula mencocokkannya dengan bagan DDC.
Cara Membaca Daftar Tajuk Subjek
Daftar disusun alfabetis kata demi kata. Tajuk yang dipakai ditulis dengan huruf besar, diikuti notasi kelas. Ada dua jenis acuan silang:
- Lihat: mengarahkan dari istilah yang tidak dipakai ke istilah yang dipakai. Contohnya, “Pendidikan, Sosiologi” mengarah ke SOSIOLOGI PENDIDIKAN. Acuan ini wajib diikuti.
- Lihat juga: menghubungkan dua tajuk yang berkaitan. Acuan ini hanya saran, jadi periksa apakah istilah itu lebih cocok untuk bukumu.
Prinsip Menentukan Tajuk Subjek
Beberapa prinsip penting bagi pemula:
- Gunakan tajuk dari daftar baku agar istilahnya seragam, misalnya tidak berganti-ganti antara “apotek”, “apotik”, dan “rumah obat”.
- Pilih tajuk yang spesifik. Buku peternakan ayam diberi tajuk AYAM, bukan PETERNAKAN.
- Tajuk utama biasanya kata benda, bisa tunggal, majemuk, dengan penjelasan (misalnya BUNGA (TANAMAN)), atau gabungan.
- Tajuk tambahan dipisahkan dengan tanda strip, misalnya BIOLOGI – KAMUS atau ISLAM – ORGANISASI.
- Untuk ilmu sosial dan humaniora, nama wilayah bisa menjadi tajuk utama, misalnya INDONESIA – POLITIK LUAR NEGERI.
- Nama orang, organisasi, hewan, atau tumbuhan boleh dipakai sebagai tajuk walaupun belum terdaftar, misalnya HATTA, MOHAMAD.
- Untuk biografi, tajuk bisa memakai nama tokoh, wilayah (INDONESIA – BIOGRAFI), atau bidang subjek.
Perlu dicatat, menentukan tajuk tanpa pedoman baku cenderung menghasilkan istilah yang beragam di tiap perpustakaan. Akibatnya, pemustaka bisa gagal menemukan buku hanya karena beda pilihan kata.
Contoh Lengkap: Dari Buku ke Nomor Kelas dan Tajuk
Misalnya kamu menerima buku berjudul Kamus Biologi.
- Analisis subjek: buku ini kamus yang isinya istilah-istilah biologi.
- Konsep subjek: biologi, bentuk penyajian kamus.
- Klasifikasi: biologi 574, ditambah subdivisi standar kamus -03, menjadi 574.03.
- Tajuk subjek: BIOLOGI – KAMUS.
Hasil ini kemudian dicatat dalam katalog atau aplikasi otomasi, dan nomor kelasnya dipakai sebagai dasar nomor panggil di punggung buku.
Alat Bantu untuk Pemula
Beberapa alat yang bisa kamu siapkan:
- Buku DDC edisi ringkas atau lengkap, atau akses e-DDC bila tersedia.
- Daftar Tajuk Subjek Perpusnas, dan pedoman khusus bila koleksimu berfokus pada agama atau kesehatan.
- Kamus bahasa dan kamus subjek untuk memahami istilah.
- Katalog perpustakaan lain sebagai pembanding saat ragu. Pastikan hasilnya tetap kamu cek dengan edisi DDC yang kamu pakai.
- Aplikasi otomasi seperti SLiMS untuk menyimpan data tajuk dan nomor klasifikasi. Kamu bisa membaca perbandingannya di artikel SLiMS vs INLISLite untuk perpustakaan kecil.
Kesalahan yang Sering Terjadi pada Pemula
- Hanya melihat judul. Judul sering menyesatkan, jadi cek daftar isi dan pengantar.
- Berhenti di indeks relatif tanpa mengecek bagan.
- Memakai nomor terlalu umum, padahal ada nomor yang lebih spesifik.
- Mengabaikan tabel pembantu, sehingga banyak buku bersubjek berbeda menumpuk di nomor yang sama.
- Membuat tajuk sendiri tanpa daftar baku, sehingga istilah tidak konsisten.
- Tidak mencatat keputusan. Buat daftar pegangan internal supaya buku sejenis diberi nomor dan tajuk yang sama.
Klasifikasi DDC dan tajuk subjek sebenarnya mengikuti alur yang sama: pahami isi buku, terjemahkan ke bahasa DDC dan daftar tajuk, lalu catat dengan konsisten. Mulailah dari analisis subjek, cari di indeks relatif, cek di bagan, tambahkan tabel pembantu, lalu tentukan tajuk dari daftar baku.
Pemula tidak perlu menghafal semua nomor. Yang paling penting adalah ketelitian membaca isi buku dan konsistensi memakai pedoman. Semakin sering berlatih, semakin cepat kamu menemukan nomor dan tajuk yang tepat.
Setelah koleksi terklasifikasi rapi, kamu bisa lanjut menyiapkan laporan tahunan perpustakaan sekolah dengan data koleksi yang lebih akurat.
Referensi:
Prestisia, Gretha. “Klasifikasi Bahan Perpustakaan.” Repositori Universitas Ahmad Dahlan, eprints.uad.ac.id/14068/1/KLASIFIKASI%20BHN%20PERPUS.pdf. Diakses 13 Okt. 2026.
“SOP Pengatalogan Subjek Bahan Perpustakaan.” Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2026, asset.uinjkt.ac.id/uploads/SELvzzic/2026/01/sop-pengatalogan-subjek-bahan-perpustakaan.pdf. Diakses 13 Okt. 2026.
“Analisis Penggunaan e-DDC dalam Pengklasifikasian Bahan Pustaka.” Palimpsest: Jurnal Ilmu Informasi dan Perpustakaan, vol. 12, no. 2, Universitas Airlangga, e-journal.unair.ac.id/palimpsest/article/download/30652/16296. Diakses 13 Okt. 2026.
National Library of New Zealand. DDC 23 Training Programme, Session 1: Introduction to the Online Version of DDC 23. LIANZA, 2012, lianza.org.nz/media/xxjbgmhf/session_1_dewey_training_-_introduction_to_ddc.pdf. Diakses 13 Okt. 2026.



