10 Perpustakaan Tertua di Indonesia

perpustakaan tertua di indonesia

Kalau kamu membayangkan perpustakaan, mungkin yang muncul adalah gedung ber-AC dengan rak rapi dan mesin peminjaman mandiri. Padahal, jauh sebelum itu semua ada, koleksi pengetahuan di Nusantara sudah disimpan di ruang kecil keraton, di gedung kebun raya, bahkan di kotak kayu berisi daun lontar.

Banyak orang mengira sejarah perpustakaan di Indonesia baru dimulai setelah kemerdekaan. Kenyataannya, beberapa perpustakaan sudah berdiri sejak abad ke-18 dan sebagian di antaranya masih beroperasi sampai sekarang, hanya berganti nama dan bertambah fungsi.

Artikel ini mengulas sepuluh perpustakaan tertua di Indonesia, mulai dari tahun berdirinya, siapa yang mendirikan, sampai koleksi khas yang membuatnya penting.

Cocok kalau kamu sedang mencari bahan tugas sejarah, menyusun penelitian tentang literasi, atau sekadar ingin tahu dari mana tradisi baca tulis di negeri ini bermula.

Sekilas Sejarah Perpustakaan di Indonesia

Sebelum masuk ke daftarnya, ada baiknya kamu memahami konteksnya lebih dulu. Tradisi menulis dan menyimpan naskah di Nusantara sudah berjalan sejak masa kerajaan, terutama pada era Mataram Kuno, ketika para pujangga keraton menghasilkan karya sastra yang disalin di atas daun lontar.

Apa Kendala Anda dalam Pengadaan Buku?

Naskah-naskah itu belum bisa disebut perpustakaan modern, tetapi sudah menjalankan fungsi dasarnya: mengumpulkan dan merawat pengetahuan.

Perpustakaan dalam pengertian kelembagaan baru muncul pada masa kolonial. Pemerintah Hindia Belanda mendirikan perpustakaan untuk kebutuhan penelitian, sementara pihak keraton mendirikan perpustakaan untuk merawat naskah, serat, dan arsip kerajaan.

Dari dua jalur itulah sebagian besar perpustakaan tua di Indonesia lahir. Sebagian bertahan, berganti nama berkali-kali, lalu bertransformasi menjadi lembaga modern seperti yang kamu kenal hari ini.

Daftar 10 Perpustakaan Tertua di Indonesia

Berikut sepuluh perpustakaan tertua di Indonesia, diurutkan berdasarkan tahun berdirinya.

1. Perpustakaan Bataviaasch Genootschap (1778)

Perpustakaan ini berdiri di Batavia pada 24 April 1778, bersamaan dengan lahirnya lembaga ilmu pengetahuan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Pendiriannya diprakarsai oleh J.C.M. Rademaker, ketua Raad van Indie.

Koleksinya berupa buku, majalah, peta, dokumen, dan surat kabar lokal yang kemudian menjadi cikal bakal koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Perpustakaan ini juga tercatat sebagai penerbit katalog buku pertama di Indonesia.

Statusnya waktu itu adalah perpustakaan khusus karena koleksinya terbatas dan hanya dipakai kalangan peneliti. Gedung tempatnya berdiri kini kamu kenal sebagai Museum Nasional.

2. Bibliotheca Bogoriensis, Bogor (1842)

Perpustakaan ini bermula sebagai bagian dari Kebun Raya Bogor dan dikenal sebagai perpustakaan pertanian serta biologi tertua di Indonesia. Pada 1850 koleksinya mulai menempati ruang khusus di Gedung Herbarium Bogoriensis, lalu mendapat gedung tersendiri pada 1898 berkat usaha Melchior Treub.

Namanya berganti berkali-kali mengikuti perubahan kelembagaan, dari Bibliotheca Bogoriensis menjadi Pusat Perpustakaan Penelitian Teknik Pertanian pada 1962, hingga kini menjadi Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian sejak 2025.

Pengadaan Buku

Yang membuatnya istimewa adalah koleksi antikuariatnya. Di sana tersimpan ribuan koleksi bernilai sejarah tinggi, termasuk buku botani tertua terbitan tahun 1586.

3. Perpustakaan Reksa Pustaka, Pura Mangkunegaran Surakarta (1867)

Reksa Pustaka didirikan pada 1867, pada masa pemerintahan Sri KGPAA Mangkunegara IV. Menariknya, pada awal berdiri lembaga ini berfungsi sebagai arsip yang mengurus serat-serat atau surat.

Perannya berubah pada 1877, ketika dibentuk kantor Reksa Wilapa yang khusus menangani surat-menyurat. Sejak saat itu Reksa Pustaka resmi menjadi perpustakaan yang fokus mengurus buku.

Koleksinya mencapai sekitar 6.000 judul berupa buku, naskah kuno, foto, dan arsip. Naskah tertuanya adalah Serat Menak berbahasa dan beraksara Jawa yang ditulis di atas lontar, serta karya-karya Mangkunegara IV seperti Serat Wedhatama.

4. Perpustakaan Negara Pasteur, Bandung (1890)

Bandung juga punya jejak perpustakaan tua. Perpustakaan negara Pasteur didirikan pada 1890, disusul balai hidrologi dan hidrometri pada 1914 serta Observatorium Bosscha pada 1920.

Pola yang menarik dari masa itu: setiap pendirian lembaga penelitian hampir selalu diikuti pendirian perpustakaan pendukungnya. Perpustakaan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari infrastruktur ilmu pengetahuan.

5. Perpustakaan Radya Pustaka, Surakarta (1890)

Radya Pustaka didirikan oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV pada 18 Oktober 1890 dan dikenal sebagai museum tertua di Indonesia. Di dalamnya terdapat ruang perpustakaan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari koleksinya.

Buku-buku yang tersimpan di sana mayoritas berbahasa Belanda dan Jawa, dengan sebagian kecil berbahasa Indonesia. Seluruh koleksi hanya boleh dibaca di dalam ruang perpustakaan dan tidak dipinjamkan keluar.

Kalau kamu berkunjung, kamu juga akan menemukan patung Johannes Albertus Wilkens, ahli bahasa asal Belanda yang menyusun kamus Jawa-Belanda.

6. Perpustakaan Widya Budaya, Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta memiliki tiga perpustakaan: Widyabudaya, KHP Kridamardhawa, dan Banjar Wilapa. Widya Budaya berperan sebagai pusat penyimpanan naskah keraton.

Banjar Wilapa sendiri didirikan pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dengan nama awal Bibliotik Keraton. Awalnya perpustakaan ini menyimpan buku pelajaran putra-putri Sultan yang sebagian besar berbahasa asing.

Naskah-naskah keraton ini masih terus dirawat. Perpustakaan Nasional bahkan sudah melakukan digitalisasi sejumlah naskah Keraton Yogyakarta sejak 2009, di antaranya Babad Ngayogyakarta HB V dan Serat Damarwulan.

Baca Juga: 8 Perpustakaan Terbesar di Indonesia yang Wajib Dikunjungi

7. Perpustakaan Widyapustaka, Pura Pakualaman Yogyakarta

Widyapustaka adalah perpustakaan milik Pura Pakualaman yang menyimpan koleksi naskah dan arsip kuno. Perpustakaan ini kerap menjadi tujuan kuliah lapangan mahasiswa, khususnya pada mata kuliah kodikologi yang mempelajari naskah kuno.

Ada sikap menarik dari pihak Pakualaman soal koleksinya. Pada 2010, naskah-naskah tersebut diposisikan sebagai pusaka sehingga dipilih untuk disimpan sendiri, dan proses digitalisasinya dilakukan secara mandiri sampai sekarang.

8. Gedong Kirtya, Singaraja Bali (1928)

Gedong Kirtya didirikan pada 2 Juni 1928 dan dibuka untuk umum pada 14 September 1928 di Singaraja, yang saat itu menjadi ibu kota Sunda Kecil. Pendirinya adalah L.J.J. Caron, yang sebelumnya berdiskusi dengan para raja dan tokoh agama Bali soal pelestarian lontar.

Nama “kirtya” diusulkan oleh I Gusti Putu Djelantik, Raja Buleleng saat itu. Kata tersebut berakar dari bahasa Sanskerta yang berarti usaha atau jerih payah.

Koleksinya terdiri atas ribuan manuskrip daun lontar, prasasti, dan dokumen dari zaman kolonial (1901-1953), termasuk lontar bergambar yang disebut prasi. Perpustakaan lontar seperti ini disebut sebagai satu-satunya di Indonesia, bahkan di dunia.

9. Perpustakaan Museum Sonobudoyo, Yogyakarta (1940)

Museum Sonobudoyo didirikan pada 6 November 1935 oleh Java Institut atas restu Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, dengan Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat sebagai pemimpin yayasan saat itu.

Perpustakaannya menyusul pada 1940 dengan menempati gedung seluas 668 meter persegi. Koleksinya berupa buku dan naskah yang sebagian besar menggambarkan kebudayaan bangsa Indonesia.

Sampai hari ini Sonobudoyo masih aktif dalam pelestarian naskah, termasuk lewat kerja sama digitalisasi manuskrip bersama keraton dan lembaga lain.

10. Perpustakaan Yayasan Bung Hatta (1950)

Kalau sembilan nama sebelumnya lahir pada masa kolonial, yang satu ini menandai babak baru. Perpustakaan Yayasan Bung Hatta berdiri pada 25 Agustus 1950, tak lama setelah Indonesia merdeka.

Koleksinya menitikberatkan pada pengelolaan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Indonesia. Kehadirannya menjadi penanda bahwa perpustakaan mulai dibangun dengan orientasi kebangsaan, bukan lagi kepentingan penelitian kolonial.

Tips Berkunjung ke Perpustakaan Bersejarah

Kalau kamu tertarik berkunjung, ada beberapa hal yang perlu disiapkan supaya kunjunganmu tidak sia-sia:

  • Cek jadwal layanan lebih dulu, karena perpustakaan keraton dan museum biasanya punya jam buka terbatas.
  • Siapkan surat pengantar bila kamu datang untuk keperluan penelitian, terutama untuk mengakses naskah kuno.
  • Bawa catatan manual, karena banyak koleksi hanya boleh dibaca di tempat dan tidak boleh dipinjam.
  • Tanyakan katalog dan salinan digitalnya, sebab beberapa naskah sudah tersedia dalam bentuk digital sehingga kamu tidak perlu menyentuh naskah aslinya.
  • Hormati aturan foto dan perlakuan naskah, karena manuskrip lama sangat rentan rusak.

Sepuluh perpustakaan di atas memperlihatkan bahwa tradisi menyimpan pengetahuan di Indonesia sudah berjalan lebih dari dua abad. Ada yang lahir dari kepentingan penelitian kolonial seperti Bataviaasch Genootschap dan Bibliotheca Bogoriensis, ada pula yang lahir dari inisiatif keraton seperti Reksa Pustaka, Radya Pustaka, Widya Budaya, dan Widyapustaka.

Referensi:

  • Arsip Nasional Republik Indonesia. Inventaris Arsip Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (KBG) 1778-1962. https://anri.go.id
  • Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Perpustakaan Nasional dan Keraton Yogyakarta Berkomitmen Melestarikan Naskah Nusantara. https://www.perpusnas.go.id
  • Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng. Gedong Kirtya, Perpustakaan Lontar Satu-satunya di Dunia. https://dispar.bulelengkab.go.id
  • Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM. Kuliah Lapangan Kodikologi di Perpustakaan Widyabudaya Keraton Ngayogyakarta dan Widyapustaka Pura Pakualaman. https://sastrajawa.fib.ugm.ac.id
  • Jurnal Khizanah al-Hikmah UIN Alauddin. Sejarah Perkembangan Perpustakaan di Indonesia. https://journal.uin-alauddin.ac.id
  • Retnaningtyas, R. Preservasi Naskah Kuno pada Perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran Surakarta. D3 Ilmu Perpustakaan Universitas Sebelas Maret.
  • Indonesia Kaya. Museum Radya Pustaka, Museum Tertua di Indonesia. https://indonesiakaya.com
Muhammad Luqman

Tim editorial Penerbit Deepublish berfokus pada topik pengadaan buku, perpustakaan, dan pendidikan. Setiap artikel disusun berdasarkan sumber tepercaya dan regulasi resmi agar informasinya akurat serta relevan.

Bagikan Artikel Ini
Artikel Terbaru

INGIN PENGADAAN BUKU UNTUK PERPUSTAKAAN DAN INSTANSI ANDA?

Mari pengadaan Buku dengan Penerbit Deepublish dan akan ada Promo khusus untuk Anda yang pengadaan hari ini.