Dalam dunia akademik, memahami perkembangan terbaru suatu topik penelitian menjadi langkah penting sebelum menyusun karya ilmiah. Salah satu konsep yang sering digunakan adalah state of the art penelitian, yaitu gambaran posisi penelitian terbaru berdasarkan kajian literatur yang relevan.
Dengan memahami state of the art, peneliti dapat mengetahui celah riset, kebaruan (novelty), serta kontribusi yang dapat diberikan dalam penelitian yang dilakukan. Tidak heran jika banyak mahasiswa dan peneliti mencari penjelasan lengkap mengenai konsep ini.
Lalu, apa sebenarnya state of the art penelitian dan bagaimana cara menyusunnya dengan benar? Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut agar penelitian lebih terarah dan berkualitas.
Daftar Isi
Pengertian State of The Art Penelitian
Apa itu State of The Art Penelitian (SOTA)? State of the Art penelitian adalah bagian penting dalam karya ilmiah yang menjelaskan posisi penelitian terbaru berdasarkan kajian literatur yang relevan dan mutakhir. Istilah ini merujuk pada ringkasan perkembangan terkini dalam suatu bidang studi, sehingga peneliti dapat memahami apa saja yang sudah diteliti, metode yang digunakan, serta hasil yang telah ditemukan oleh penelitian sebelumnya.
Dalam praktiknya, state of the art penelitian disusun melalui proses telaah pustaka (literature review) yang mendalam terhadap jurnal ilmiah, buku, dan sumber akademik terpercaya.
Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi celah penelitian (research gap), menemukan kebaruan (novelty), serta menentukan kontribusi yang akan diberikan oleh penelitian yang sedang dilakukan.
Dengan memahami apa itu state of the art penelitian, peneliti dapat menghindari pengulangan topik yang sama dan memastikan bahwa penelitiannya memiliki nilai tambah.
Fungsi State of The Art Penelitian
Berikut fungsi dan alasan mengapa state of the art penting dalam penelitian:
1. Menunjukkan Posisi Penelitian
State of the art penelitian berfungsi untuk menunjukkan posisi penelitian yang sedang dilakukan di antara penelitian sebelumnya. Dengan memahami penelitian terdahulu, peneliti dapat mengetahui apakah topik yang diangkat masih relevan atau sudah banyak diteliti.
2. Mengidentifikasi Research Gap
Salah satu fungsi utama state of the art adalah menemukan celah penelitian (research gap). Melalui analisis literatur, peneliti dapat melihat bagian mana yang belum dibahas atau masih perlu dikembangkan, sehingga penelitian memiliki nilai kebaruan.
3. Menentukan Kebaruan (Novelty)
Dengan adanya state of the art, peneliti dapat menegaskan novelty atau keunikan penelitian yang dilakukan. Hal ini penting agar penelitian tidak sekadar mengulang studi sebelumnya, tetapi memberikan kontribusi baru dalam bidang ilmu tertentu.
4. Memperkuat Landasan Teori
State of the art membantu peneliti menyusun landasan teori yang kuat berdasarkan sumber terpercaya seperti jurnal dan buku ilmiah. Dengan demikian, penelitian menjadi lebih kredibel dan ilmiah.
5. Mengarahkan Fokus Penelitian
Melalui kajian state of the art, peneliti dapat menentukan arah dan fokus penelitian secara lebih jelas. Ini membantu menghindari pembahasan yang terlalu luas atau tidak relevan.
6. Meningkatkan Kualitas Karya Ilmiah
Dengan menyusun state of the art penelitian yang baik, kualitas skripsi, tesis, atau artikel ilmiah akan meningkat karena didukung oleh analisis literatur yang mendalam dan terstruktur.
Dengan berbagai fungsi tersebut, state of the art dalam penelitian ilmiah menjadi bagian penting untuk menghasilkan penelitian yang relevan, berkualitas, dan memiliki kontribusi nyata dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
Cara Membuat State of Art
Menyusun state of the art penelitian merupakan langkah penting untuk menunjukkan kebaruan dan posisi riset yang dilakukan. Proses ini tidak sekadar merangkum literatur, tetapi juga menganalisis perkembangan penelitian secara kritis.
Agar hasilnya maksimal, berikut cara membuat state of the art penelitian yang dapat diikuti secara sistematis.
1. Menentukan Topik Penelitian
Langkah awal adalah menentukan topik penelitian yang spesifik dan terarah. Topik yang jelas akan memudahkan proses pencarian literatur serta membantu peneliti fokus pada pembahasan yang relevan.
Pastikan topik memiliki keterkaitan dengan isu terkini agar state of the art yang disusun lebih aktual.
2. Mengumpulkan Literatur Terbaru
Selanjutnya, kumpulkan sumber referensi dari jurnal ilmiah, buku, maupun prosiding terbaru (5–10 tahun terakhir). Gunakan database terpercaya seperti Google Scholar atau jurnal bereputasi. Pilih literatur yang benar-benar relevan agar analisis yang dilakukan lebih mendalam dan sesuai dengan fokus penelitian.
3. Mengelompokkan dan Menganalisis Literatur
Setelah mengumpulkan referensi, lakukan pengelompokan berdasarkan tema, metode, atau hasil penelitian. Kemudian, analisis setiap penelitian untuk melihat persamaan, perbedaan, serta kelebihan dan kekurangannya.
Tahap ini penting untuk memahami perkembangan riset dalam bidang tersebut.
4. Menemukan Research Gap
Dari hasil analisis, identifikasi celah penelitian (research gap) yang belum banyak dibahas oleh peneliti sebelumnya. Research gap inilah yang akan menjadi dasar kebaruan (novelty) penelitianmu. Pastikan gap yang ditemukan relevan dan memiliki potensi untuk dikembangkan.
5. Menyusun Narasi yang Sistematis
Langkah berikutnya adalah menyusun hasil analisis dalam bentuk narasi yang runtut. Hindari hanya merangkum satu per satu penelitian, tetapi hubungkan antar penelitian agar membentuk alur yang logis. Gunakan bahasa akademik yang jelas dan mudah dipahami.
6. Menegaskan Posisi dan Kontribusi Penelitian
Di bagian akhir, jelaskan posisi penelitianmu dibandingkan penelitian sebelumnya. Tegaskan kontribusi yang akan diberikan, baik dari segi metode, objek, maupun hasil yang diharapkan. Hal ini menjadi inti dari state of the art penelitian.
Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, cara membuat state of the art penelitian dapat dilakukan secara terstruktur dan efektif. Penyusunan yang baik akan membantu menunjukkan kebaruan riset, memperkuat landasan teori, serta meningkatkan kualitas karya ilmiah agar lebih siap dipublikasikan.
Tips Membuat State of Art
Menyusun state of the art penelitian yang baik tidak hanya membutuhkan banyak referensi, tetapi juga kemampuan analisis yang kuat. Banyak mahasiswa masih kesulitan karena hanya merangkum literatur tanpa menunjukkan kebaruan penelitian.
Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat agar state of the art terlihat sistematis, kritis, dan sesuai standar karya ilmiah. Berikut beberapa tips membuat state of the art penelitian yang efektif:
1. Gunakan Sumber Referensi Terbaru dan Kredibel
Salah satu kunci utama dalam menyusun state of the art penelitian adalah menggunakan referensi terbaru, idealnya dari 5–10 tahun terakhir. Pilih jurnal ilmiah bereputasi, prosiding, atau buku akademik terpercaya. Hindari sumber yang tidak jelas agar kualitas penelitian tetap terjaga dan sesuai standar akademik.
2. Fokus pada Topik yang Spesifik
Tips berikutnya adalah mempersempit fokus pembahasan. Jangan membahas topik terlalu luas karena akan membuat analisis menjadi kurang mendalam. Dengan fokus yang jelas, kamu dapat lebih mudah menemukan pola penelitian serta research gap yang relevan.
3. Jangan Hanya Merangkum, tetapi Analisis
Kesalahan umum dalam membuat state of the art adalah hanya merangkum isi penelitian sebelumnya. Padahal, yang dibutuhkan adalah analisis kritis. Bandingkan metode, hasil, serta kelemahan dari setiap penelitian. Dengan begitu, kamu dapat menunjukkan perkembangan riset secara lebih jelas.
4. Kelompokkan Literatur Secara Sistematis
Agar lebih terstruktur, kelompokkan literatur berdasarkan tema, metode, atau pendekatan penelitian. Teknik ini membantu pembaca memahami alur pembahasan serta memudahkan peneliti dalam menyusun narasi yang logis dan runtut.
5. Temukan dan Tegaskan Research Gap
Tips paling penting dalam cara membuat state of the art penelitian adalah menemukan celah penelitian. Identifikasi bagian yang belum banyak diteliti atau masih memiliki keterbatasan. Setelah itu, tegaskan bagaimana penelitianmu akan mengisi kekurangan tersebut.
6. Gunakan Bahasa Akademik yang Jelas
Gunakan bahasa yang formal, jelas, dan mudah dipahami. Hindari kalimat yang bertele-tele atau ambigu. Penulisan yang baik akan meningkatkan kualitas state of the art dan memudahkan pembaca memahami isi penelitian.
7. Hubungkan Antar Penelitian
Jangan menulis penelitian secara terpisah-pisah. Pastikan setiap referensi saling terhubung dan membentuk alur yang berkesinambungan. Hal ini akan menunjukkan bahwa Anda memahami perkembangan penelitian secara menyeluruh.
8. Perkuat dengan Sitasi yang Tepat
Gunakan sitasi sesuai dengan gaya penulisan yang berlaku, seperti APA, MLA, atau Chicago. Sitasi yang tepat menunjukkan bahwa penelitian Anda memiliki dasar ilmiah yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Itulah pembahasan singkat dari Pengadaan Buku Deepublish tentang State of The Art Penelitian. State of the art yang baik tidak hanya membantu menemukan kebaruan penelitian, tetapi juga meningkatkan kredibilitas karya ilmiah sehingga lebih siap untuk dipublikasikan di jurnal bereputasi.
Referensi:
Nuraini, Febrianna. “State of The Art dalam Penelitian dan 3 Cara Menentukannya.” Dunia Dosen, 18 Agustus 2023, https://duniadosen.com/informasi/state-of-the-art-dalam-penelitian/. Diakses 7 April 2026.
Arianto, Bambang, dan S. M. Rani. Penyusunan State of The Art Penelitian. Borneo Novelty Publishing, 2024, https://www.researchgate.net/publication/385096507_Penyusunan_State_of_The_Art_Penelitian. Diakses 7 April 2026




