Kata ulang adalah salah satu jenis kata dalam Bahasa Indonesia yang terbentuk melalui proses pengulangan, baik sebagian maupun seluruh kata. Dalam kehidupan sehari-hari, kamu pasti sering menemukan penggunaan kata ulang, seperti sayur-mayur, berjalan-jalan, dan anak-anak. Penggunaan kata ini tidak hanya membuat kalimat terdengar lebih alami, namun juga memperjelas makna.
Memahami kata ulang penting untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, terutama dalam menulis dan berbicara dengan baik dan benar. Melalui pembahasan ini, kamu akan mempelajari pengertian kata ulang, jenis-jenisnya, fungsi dalam kalimat, hingga berbagai contoh yang mudah dipahami. Dengan begitu, kamu dapat menggunakan kata ulang dengan tepat.
Daftar Isi
Pengertian Kata Ulang
Apakah yang dimaksud dengan kata ulang? Kata ulang adalah jenis kata yang dihasilkan melalui proses reduplikasi. Reduplikasi adalah proses pengulangan kata atau unsur kata, contohnya pada kata rumah-rumah dan bolak-balik. Kata ulang adalah kata yang terbentuk dari hasil proses pengulangan tersebut.
Reduplikasi juga dapat diartikan sebagai proses pengulangan bentuk dasar sehingga menghasilkan bentuk baru yang disebut kata ulang. Kata ulang bisa dipahami sebagai kata baru yang muncul akibat pengulangan suatu bentuk dasar.
Contohnya seperti anak-anak, tulisan-tulisan, perbedaan-perbedaan, minuman-minuman, dan sebagainya.
Jenis Kata Ulang
Kata ulang terbagi menjadi dua jenis, yaitu berdasarkan bentuk dan berdasarkan perubahan makna. Untuk memahami kedua jenis tersebut, kamu dapat mempelajari penjelasannya berikut ini.
1. Kata Ulang Berdasarkan Bentuk
Kata ulang berdasarkan proses pengulangan bentuk dasarnya dibagi menjadi empat kelompok. Keempat kelompok tersebut dijelaskan sebagai berikut.
a. Dwilingga (Utuh)
Dwilingga adalah jenis kata ulang yang terbentuk melalui pengulangan seluruh bentuk dasar tanpa mengalami perubahan bunyi maupun penambahan imbuhan. Dengan kata lain, kata dasarnya diulang secara lengkap. Contohnya sebagai berikut.
- Ibu menjadi ibu-ibu.
- Tontonan menjadi tontonan-tontonan
- Sahabat menjadi sahabat-sahabat
- Pertunjukkan menjadi pertunjukkan-pertunjukkan
b. Dwipurwa (Sebagian)
Dwipurwa atau kata ulang sebagian adalah bentuk pengulangan yang hanya mengulang sebagian dari kata dasar. Pada jenis ini, kata dasar tidak diulang secara penuh, hanya bagian tertentu saja yang mengalami pengulangan. Contohnya adalah:
- Pengulangan sebagian pada kata dasar tunggal:
- Laki menjadi lelaki, bukan laki-laki
- Tamu menjadi tetamu, bukan tamu-tamu
- Pohon menjadi pepohonan, bukan pohon-pohon
- Sama menjadi sesama, bukan sama-sama
- Pengulangan sebagian pada kata dasar kompleks:
- Berlari menjadi berlari-lari
- Ditusuk menjadi ditusuk-tusuk
- Makanan menjadi makanan-makanan
- Dibesarkan menjadi dibesar-besarkan
c. Kata Ulang Berimbuhan atau Afiksasi
Kata ulang berimbuhan adalah jenis kata ulang yang proses pengulangannya terjadi bersamaan dengan penambahan imbuhan (afiksasi). Jadi, pengulangan dan pemberian imbuhan tidak dilakukan secara terpisah, melainkan berlangsung sekaligus dalam satu proses pembentukan kata. Kedua proses ini bersama-sama membentuk makna dan fungsi tertentu.
Contohnya, pada kata motor-motor yang berasal dari kata dasar motor. Bentuk tersebut memiliki makna jamak atau lebih dari satu motor. Berbeda dengan motor-motoran, yang terbentuk melalui proses pengulangan sekaligus penambahan imbuhan -an. Kata motor-motoran mempunyai arti menyerupai motor atau motor tiruan, sehingga maknanya tidak berkaitan dengan bentuk jamak pada motor-motor.
Beberapa contoh lainnya adalah:
- Orang-orangan, berasal dari kata dasar orang, bukan dari orang-orang + –an.
- Kuda-kudaan, berasal dari kata dasar kuda, bukan dari kuda-kuda + -an.
- Kemerah-merahan, berasal dari kata dasar merah. Jadi, bukan dari merah + ke-an.
- Semurah-murahnya, berasal dari kata dasar murah, bukan dari murah + se-nya.
Sebagai contoh, kata kuda-kuda berarti posisi atau sikap siap, sedangkan kuda-kudaan berarti kuda tiruan atau benda yang menyerupai kuda. Maka dari itu, bentuk kuda-kudaan tidak berasal dari kuda-kuda yang diberi imbuhan -an, melainkan terbentuk melalui proses pengulangan dan afiksasi yang berlangsung secara bersamaan.
d. Kata Ulang Berubah Bunyi atau Variasi Fenom
Kata ulang berubah bunyi atau variasi fonem adalah jenis pengulangan kata yang disertai perubahan bunyi pada salah satu bagian katanya. Dalam proses tersebut, bentuk dasar tidak diulang secara sama persis karena terdapat perubahan pada bunyi vokal maupun konsonan sehingga menghasilkan bentuk baru yang tetap mempunyai hubungan makna.
Contoh pengulangan dengan perubahan bunyi vokal adalah:
- Gerak-gerik
- Serba-serbi
Sedangkan, contoh pengulangan dengan perubahan bunyi konsonan adalah
- Sayur-mayur
- Ramah-tamah
- Lauk-pauk
- Kacau-balau
e. Kata Ulang Unik
Kata ulang unik merupakan jenis kata ulang yang salah satu unsurnya tidak bisa berdiri sebagai bentuk linguistik yang memiliki arti yang jelas. Dengan kata lain, salah satu bagian katanya hanya muncul dalam pasangan kata tersebut. Contohnya sebagai berikut.
- Gelap-gulita
- Simpang-siur
Pada contoh simpang-siur, unsur siur termasuk bentuk unik karena tidak umum digunakan secara mandiri. Bentuk ini sekilas menyerupai kata ulang dengan variasi fonem sehingga sering dimasukkan ke dalam kelompok kata ulang. Hal yang sama juga terjadi pada kata gelap-gulita dan bentuk sejenis lainnya.
Tapi, beberapa ahli bahasa Indonesia berpendapat bahwa bentuk-bentuk tersebut lebih tepat dikelompokkan sebagai kata majemuk karena mempunyai unsur unik pada salah satu bagiannya.
f. Kata Ulang Semu
Kata ulang semu adalah jenis kata yang tampak seperti kata ulang, namun sebenarnya tidak memenuhi ciri-ciri kata ulang yang sesungguhnya. Pada jenis ini, bentuk dasarnya tidak bisa ditemukan atau tidak dipakai sebagai bentuk linguistik yang berdiri sendiri dalam bahasa Indonesia. Karena itu, beberapa ahli bahasa menyebutnya sebagai kata ulang semu. Contohnya adalah:
- Kunang-kunang
- Gara-gara
- Ubur-ubur
- Laba-laba
- Biri-biri
- Cumi-cumi
- Pura-pura
- Sia-sia
- Onde-onde
Meskipun bentuk-bentuk tersebut terlihat seperti hasil pengulangan dari kata dasar tertentu, kenyataanya unsur dasarnya, seperti gara, laba, cumi, atau kunang, tidak digunakan secara mandiri dalam penggunaan bahasa Indonesia. Bentuk dasar ini hanya muncul dalam bentuk perulangan, sehingga kata-kata ini digolongkan sebagai kata ulang semu.
2. Kata Ulang yang Mengubah Makna
Kata ulang mempunyai berbagai makna sesuai dengan bentuk dan penggunaannya dalam kalimat. Setiap kata ulang bisa menimbulkan arti tertentu yang berbeda-beda. Penjelasan tentang perubahan makna pada kata ulang yang bisa kamu pelajari pada pembahasan berikut.
a. Jika bentuk dasarnya berupa kata benda, kata ulang dapat bermakna:
- Menyatakan “Meskipun”
Pada beberapa penggunaan, kata ulang bisa menunjukkan mana “meskipun” atau “walaupun”. Contohnya adalah:
- Batu-batu dipakainya = Meskipun batu dipakai
- Biji-biji dimakannya = Meskipun biji dimakan
- Tulang-tulang dimakan = Meskipun tulang dimakan
- Baju-baju dicurinya = Meskipun baju dicuri
2) Menyatakan “Menyerupai” atau “Menirukan”
Kata ulang juga bisa mempunyai arti menyerupai, mencontoh, atau menirukan bentuk aslinya. Contohnya:
- Tupai-tupai
- Ular-ular
- Lidah-lidah
- Langit-langit
- Kuda-kuda
3) Menyatakan “Bermacam-Macam”
Kata ulang bisa menunjukkan makna beragam atau terdiri dari banyak jenis. Contohnya:
- Bunga-bungaan
- Buah-buahan
- Murid-murid
- Keputusan-keputusan
- Pohon-pohonan
b. Jika bentuk dasarnya berupa kata sifat, kata ulang dapat bermakna:
1) Menyatakan “Agak” atau “Hampir”
Kata ulang pada kata sifat menunjukkan makna “agak”, “hampir”, atau “sedikit”. Contohnya:
- Ragu-ragu = Agak Ragu
- Malu-malu = Agak malu
- Keputih-putihan = Agak/Hampir Putih
- Kemerah-merahan = Agak/Hampir Merah
2) Menyatakan “Bermacam-Macam” atau “Banyak”
Kata ulang juga bisa digunakan untuk menunjukkan jumlah yang banyak atau beragam. Contohnya:
- Ibu muda-muda = Ibu-ibu muda
- Soal sulit-sulit = Soal-soal sulit
- Anak muda-muda = Anak-anak muda
- Bendera-bendera kecil = Bendera kecil-kecil
3) Menyatakan “Meskipun”
Dalam beberapa kalimat, kata ulang bisa mengandung arti “meskipun” atau “walaupun”. Contohnya:
- Kurus-kurus kuat juga = Meskipun kurus tetap kuat
- Kecil-kecil dibawanya = Meskipun kecil tetap dibawa
- Panas-panas diminum = Meskipun panas tetap diminum
4) Menyatakan “Sifat” atau “Keadaan”
Kata ulang pada kata sifat juga dapat menunjukkan keadaan yang sangat atau intens. Contohnya”
- Besar-besar = Sangat besar
- Kecil-kecil = Sangat kecil
- Cepat-cepat = Sangat cepat
- Halus-halus = Sangat halus
5) Menyatakan Tingkat Paling Tinggi (Superlatif)
Kata ulang bisa juga menyatakan makna superlatif atau tingkat paling tinggi, biasanya ditandai dengan imbuhan se-….-nya. Contohnya:
- Selama-lamanya
- Sejauh-jauhnya
- Seluas-luasnya
- Sebaik-baiknya
- Secepat-cepatnya
c. Jika bentuk dasarnya berupa kata kerja, kata ulang dapat bermakna:
1) Menyatakan Hal yang Berkaitan dengan Suatu Pekerjaan
Kata ulang pada kata kerja bisa menunjukkan aktivitas atau hal yang berkaitan dengan suatu pekerjaan tertentu. Contohnya:
- Bongkar-membongkar
- Potong-memotong
- Jahit-menjahit
- Tulis-menulis
- Masak-memasak
2) Menyatakan Pekerjaan yang Dilakukan Berulang-Ulang
Kata ulang juga bisa menunjukkan suatu tindakan yang dilakukan secara terus-menerus atau berulang kali. Contohnya:
- Bercakap-cakap
- Memukul-mukul
- Merobek-robek
- Menarik-narik
3) Menyatakan Ketidakpastian atau Pekerjaan yang Dilakukan Seenaknya
Pada beberapa penggunaan, kata ulang bisa menggambarkan tindakan yang dilakukan tanpa tujuan pasti atau hanya sekadar dilakukan. Contohnya:
- Membaca-baca
- Melihat-lihat
- Berjalan-jalan
- Mencari-cari
- Mencoret-coret
4) Menyatakan Pekerjaan yang Saling Berbalasan
Kata ulang juga bisa menunjukkan adanya tindakan timbal balik atau dilakukan oleh dua pihak yang saling bergantian. Contohnya:
- Pukul-memukul
- Bersalam-salaman
- Bantu-membantu
- Tolong-menolong
- Dorong-mendorong
Fungsi Kata Ulang
Sebagai salah satu proses dalam morfologi, reduplikasi atau pengulangan kata pada dasarnya tidak berfungsi untuk mengubah golongan kata. Maka dari itu, sebagian besar bentuk pengulangan tidak mempunyai fungsi gramatikal. Tapi, ada beberapa jenis kata ulang tertentu yang bisa menunjukkan fungsi gramatikal, walaupun jumlahnya terbatas.
1. Perulangan Menyatakan Intensitas (Penguatan Makna)
Kata ulang juga bisa digunakan untuk memperkuat atau menegaskan makna tertentu. Intensitas yang muncul bisa berupa kualitas, jumlah, maupun frekuensi suatu tindakan. Contohnya:
- Pemuda-pemuda menunjukkan intensitas kuantitatif karena menyatakan jumlah yang banyak.
- Peganglah erat-erat menunjukkan intensitas kualitatif.
- Memukul-mukul menunjukkan intensitas frekuensi karena tindakan dilakukan secara berulang-ulang.
2. Perulangan Mengubah Kata Kerja Menjadi Kata Benda
Proses perulangan bisa mengubah kata kerja menjadi kata benda. Contohnya:
- Injak menjadi injak-injak
- Tulis menjadi tulis-menulis
- Karang menjadi karang-mengarang
- Undur menjadi undur-undur
Bentuk ulang tersebut termasuk kata benda yang berasal dari kata dasar berupa kata kerja. Penggunaan sebagai kata benda akan lebih mudah dipahami melalui contoh kalimat berikut.
- Injak-injak itu rusak
- Tulis-menulis itu membosankan
- Karang-mengarang itu menyenangkan
- Undur-undur itu sudah mati
3. Perulangan Mengubah Kata Sifat Menjadi Kata Keterangan
Proses perulangan juga bisa mengubah kata sifat menjadi kata keterangan. Biasanya, bentuk ini digunakan untuk menunjukkan tingkat paling tinggi atau penegasan terhadap suatu sifat. Contohnya:
- Malas menjadi semalas-malasnya
- Cepat menjadi secepat-secepatnya
- Rajin menjadi serajin-rajinnya
- Panas menjadi sepanas-panasnya
- Tinggi menjadi setinggi-tingginya
4. Perulangan Mengubah Bentuk Tunggal Menjadi Jamak
Kata ulang juga bisa berfungsi untuk mengubah bentuk tunggal menjadi bentuk jamak atau menunjukkan jumlah yang lebih dari satu. Contohnya:
- Ibu menjadi ibu-ibu
- Makanan menjadi makan-makanan
- Minuman menjadi minum-minuman
- Lauk menjadi lauk-pauk
- Buah menjadi buah-buahan
- Sayur menjadi sayur-sayur
10 Contoh Kalimat Kata Ulang
Penjelasan tentang penggunaan kata ulang dalam kalimat bisa kamu pahami pada berbagai contoh berikut.
- Windy baru mengetahui bahwa Syarif dapat tertawa terbahak-bahak
- Ibu baru saja membelikan adik mobil-mobilan
- Dia berjalan sempoyongan hingga terhuyung-huyung
- Di masa pandemi Covid-19, masyarakat tidak disarankan untuk bersalam-salaman dengan tetangga
- Terdengar suara Anita yang terus memanggil-manggil nama Dea dari bawah
- Wajah Tia tampak kemerah-merahan karena terkena sinar matahari yang terik
- Dia telah memahami gerak-gerik yang dilakukan orang tersebut
- Sejak kemarin siang, Sinta terus menanti-nanti penampilan grup musik favoritnya di televisi
- Patung-patung itu dibuat oleh seniman yang terkenal di dunia
- Meskipun sudah jatuh berkali-kali, dia tetap berusaha untuk bangkit kembali
Itulah pembahasan singakat dari Pengadaan Buku Deepublish tentang kata ulang. Dengan memahaminya, kamu dapat lebih mudah menggunakan kata ulang secara tepat dalam komunikasi sehari-hari maupun dalam penulisan.
Sumber:
Penerbit Deepublish. https://penerbitdeepublish.com/information/kata-ulang/ diakses pada 20 Mei 2026



